|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Selasa, 05 April 1994 |
|
Cuma saja, agaknya kita baru sampai pada tingkat kesangsian saja. Itu pun belum menampakkan wajahnya yang jernih. Ini bukan saja karena kenyataan sosial politik masih memperlihatkan model-model yang sentralistis. Tapi bahkan, pada tingkat kesadaran pun, visi-visi non-sentralistis yang muncul pun masih terkesan gagap, terbata-bata dan keruh. Bahkan tak jarang harapan-harapan dan penyelesaian bagi persoalan nyata pun masih merujuk serta menyandarkan diri pada sentralisme yang justru disangsikan. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Selasa, 12 Mei 1992 |
|
Dan sebaliknya, akses yang besar kepada informasi dan komunikasi menjadi jendela dialektika bagi masa depan kebudayaan. Teknologi tidak dengan langsung memberikan manfaat. Meskipun demikian, berbeda dengan jenis perkakas lainnya, harus diwaspadai bahwa setiap teknologi yang tidak dikelola atua justru dikelola secara salah -- akan menjadi bumerang bagi umat manusia. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Kamis, 02 April 1992 |
|
Malah sebaliknya, fenomena mudik menunjukkan betapa wajah kebudayaan kita retak dalam tarik-menarik yang tak pernah tuntas. Namun itu tidak berarti bahwa kesadaran akan asal-usul kurang penting. Sejarah kebudayaan, terutama dalam filsafat kebudayaan Islam, menunjukkan bahwa terputusnya kesadaran historis dengan asal-usul beresiko ambruknya kebudayaan. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Jumat, 20 Maret 1992 |
|
Dengan demikian tampak jelas bahwa istilah dan ungkapan populer, pada satu sisi, menjadi media masyarakat untuk menunjukan persoalan sosial budayanya yang telah akut dan karatan. Pada sisi lain, juga merupakan cara mereka untuk menghadirkan kembali beberapa endapan realitas yang tersimpan dalam cadangan pengetahuan sosialnya. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Sabtu, 25 Januari 1992 |
|
Absensi perimbangan kekuasaan tersebut terwujud karena kekuasaan tenaga kependidikan lebih kuat dengan legitimasi lewat kewajiban-kewajiban para peserta didik dengan penegasan lewat seluruh sanksi yang jelas yang ditimpakan atas pelanggarannya. Sementara, hak-hak peserta didik tak mampu mengimbanginya, karena kontrol balik terhadap kewajiban-kewajiban para tenaga kependidikan juga tak bisa diselengarakan. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Next > End >>
|
| Results 21 - 25 of 44 |