|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Senin, 02 Desember 1991 |
|
Aiblah yang menjadi sanksi moral yang diganjarkan oleh masyarakat kepada siapapun yang bunting atau beranak tanpa pernikahan. Meskipun begitu aib bukanlah bagian dari konsep moral, melainkan bagian dari konsep sosial. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Senin, 21 Oktober 1991 |
|
Barangkali memang harus dicatat bahwa kepercayaan dan praktek mistik magis secara hakiki bercorak sosial. Sangat jarang atau bahkan tak ada mistik magis yang sejak awal keberangkatannya bercorak individual atau personal. Dan justru pada coraknya itulah muncul beberapa kerepotan sosial. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Rabu, 02 Oktober 1991 |
|
Walk out yang dilakukan peserta simposium itu boleh jadi berpangkal pada suatu pengalaman traumatik atas kemacetan komunikasi politik dalam birokrasi saat ini. Mereka tampak mengalami ketidakpercayaan yang akut terhadap birokrasi. Oleh karena itu di mata mahasiswa, komunikasi langsung dengan pucuk-pucuk pengambil keputusan merupakan jalan yang dapat menyelamatkannya dari gig-gigi trauma yang boleh jadi akan merobek-robek dirinya. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Sabtu, 28 September 1991 |
|
Berpikir legalistik dan formal menghasilkan manusia-manusia taklid dan dogmatis. Cara pandang legalisme dan formalisme memang tidak mementingkan pemahaman makna yang dikandungnya, melainkan cukup ketaatan pada format aturan. Oleh karenanya yang lahir kemudian adalah corak kebudayaan yang reaktif, sebab kreativitas mengandaikan daya kritis yang tajam dan bukan ketaklidan. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Sabtu, 14 September 1991 |
|
Persepsi romantis -- yang lebih sering 'menyesatkan' -- tentang mahasiswa yang serba galak dan cerewet terhadap realitas sosial politik terbentuk karena kekhilafan dalam melihat berbagai perubahan yang tengah berlangsung terus dalam masyarakat. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
| Results 11 - 15 of 28 |