|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Minggu, 21 Oktober 1990 |
|
Goro-goro menyajikan kritik tanpa analis. Semua fenomena yang diangkatmasih sangat permukaan. Kritik-kritiknya sering kali tanpa fokus, bahkan tanpa sistematik. Segala hal yang terlihat, terasa, teringat dan terpikir oleh pelakunya (dalang, aktor, teater, penyanyi, atau kolumnis) saat itu juga sangat mungkin mendapat jatah kritik secara spontan. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Minggu, 30 September 1990 |
|
Dengan masih kuatnya sisa-sisa nilai feodalitas pada saat ini budaya lebel dapat menyuburkan sensor diri yang tinggi. Orang akan sangat hati-hati dalam memilih spesialisasi agar tidak dicap ini itu, yang berarti pula dinilai begini begitu. Dan pada akhirnya, hal itu memuarakan kehidupan social ke arah kegamangan nilai. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
Oleh Yayan Sopyan
|
|
Rabu, 23 Agustus 1989 |
|
Dari serentetan persoalan panjang yang diungkapkan terlalu ringkas di atas tampak bahwa HAM menyangkut wilayah yang sangat luas namun menuntut pendekatan kontekstual dan historis. Menuntut HAM seajuh sebagai etika universal yang abstrak dan mutlak-mutlakan agaknya sama dengan seorang penggembala menuntut pemerintahnya untuk mengawasi kambing-kambing yang digembalakannya agar tidak memasuki ladang tetangganya. |
|
Baca lengkap ...
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
| Results 26 - 28 of 28 |