Bangun Siang

Dua belas tahun lalu saya bangun siang. Matahari yang menembus kaca mobil terasa tidak enak di wajah saya, yang terasa tebal. Saya baru tidur selepas azan subuh pagi itu, dan ingin segera berangkat ke kantor beberapa jam kemudian.

Saya tidak sabar untuk segera mengabarkan bahwa segalanya bisa dimulai sejak hari itu.

Bagi saya, hari itu adalah hari istimewa. Saya meminta tolong Novi memesankan pizza. Saya merayakannya sesederhana itu saja, sambil meyakini bahwa hari itu akan dirayakan oleh lebih banyak orang kelak nanti. Saya meyakininya sejak dalam pikiran.