|
sempat aku masuki sebuah pub
yang tak pernah punya jam kerja
dengan lelaki dan perempuan yang tenggelam
dalam remang-remang lampu
pada dadaku, aku bicara
"hati mendorong kepala
kepala menggerakkan tangan
tangan mengubah alam jadi peradaban
inilah saatnya matahari yang bergulir dilupakan
sebab siang atau malam sama saja
dalam sorot lampu-lampu listrik"
sedang si lelaki dengan bir bercangkir-cangkir
dengan kartu bertumpuk-tumpuk
dengan rokok berbatang-batang
dengan pikiran dan rasa steril
(sebab ia tak kenal siang atau malam
tak kebal hujan atau kemarau)
tak pernah beranjak dari kursinya
berhari-hari
berminggu-minggu
berbulan-bulan
bertahun-tahun
sambil membanting kartunya si lelaki berkata, "Dari sinilah manusia mulai susun peradabannya. Kemajuan-kemajuan adalah hasil jerih payah pikiran yang coba keluar dari kejenuhan". belum sempat ia habiskan tetes akhir birnya, seorang perempuan di depannya menegur, "Bagaimana dengan anak- anak kita?". "Anak-anak kita akan masuki zaman yang lebih baik dari nasib kita hari ini. Bukankah kita telah merancangnya dari sini?," kata si lelaki sambil senandungkan Indonesia Raya.
dan lalu, tanpa henti ia bicara tentang anak, kerja, dan masa depan yang gilang gemilang. tentang anak, kerja, dan masa depan yang gilang gemilang. terus-terusan.
sampai lupa ia, tak pernah senggama
sampai lupa ia, tak pernah kerja
sampai lupa ia, tak pernah apa-apa
ketika tinggalkan pub
mataku silau oleh cahaya matahari
lalu kubacakan sajak, "Di depan si miskin
matahari hadir bagai tukang pajak".
o waktu tak terukur
jarak terus berlari
setiap orang lupa berhitung
dengan jari, keringat, darah, pikiran dan perasaannya sendiri
waktu, sejarah, dan jarak tak pernah singgah di pub-pub kita
Yogyakarta, 1 Juni 1990
|